Fenomena merebaknya jejaring sosial maya atau virtual social networking silih tumbuh berganti. Friendster dan MySpace yang sempat jadi candu masyarakat dunia, kini mulai ditinggalkan seiring kemunculan Facebook. Social networking yang dibangun oleh Mark Zuckerberg itu kini telah berhasil mengajak sekitar 250 juta orang untuk bergabung didalamnya.

Ada fenomena lebih menawan disamping jumlah penggunanya. Dulu pengguna Facebook adalah remaja-remaja tanggung, tetapi kini kelompok terbesar yang menjadi anggota Facebook adalah para wanita di atas usia 55 tahun, bahkan anggota yang umurnya antara 45 sampai 65 tahun terus bertambah, melebihi para ABG berusia 13-17.

250 juta orang sungguh bukan angka yang kecil. Bandingkan saja dengan penduduk Indonesia, angkanya jelas lebih besar dan berpotensi terus menanjak. Konon asset Facebook mencapai 15 miliar dolar AS, yang diperkirakan berasal dari perusahaan-perusahaan pengelola dana dan pasar sekunder dimana saham-saham milik karyawan diperjualbelikan.

Namun, ada tangisan sesal dibalik valuasi asset 15 miliar dolar AS yang tersirat dari investasi 240 juta dolar AS yang dibenamkan Microsoft untuk mendapatkan 1,6 persen saham Facebook pada Oktober 2007. Valuasi ini menyurut gara-gara resesi finansial global.

Sebagai raksasa jejaring sosial maya, Facebook kini menghadapi ancaman yang tidak ringan. Uniknya ancaman itu datang bukan dari lawan yang sepadan. Twitter yang dikenal sebagai microbloging perlahan tapi pasti, eksistensinya mulai menggerus popularitas Facebook. Dalam banyak hal Twitter itu antitesis dari Facebook, yaitu sebuah komunitas tersebar yang mengerjakan satu hal sederhana yang dijembatani cara-cara dan kemungkinan-kemungkinan yang maha luas.

Secara tampilan, Twitter jauh lebih sederhana dan simple dibanding Facebook. Tapi jangan salah, rupanya tampilannya yang sederhana dan akses update yang super cepat, membuat situs-situs share populer maupun perusahaan-perusahaan besar lebih suka update dengan Twitter.

Dimata Facebook, kelebihan yang dimiliki Twitter dianggap cukup membahayakan. Karena itu Mark Zuckerberg dan kawan-kawan tengah memodifikasi 2 fitur penting yang disebut-sebut menjiplak Twitter. Fitur yang dimaksud itu adalah ‘Connects me as a fan’ yang mirip fungsinya dengan followers pada Twitter. Pengguna akan diberikan notifikasi tertentu ketika seorang temannya mengaktivasi fitur tersebut. Diyakini fitur ini akan dapat membantu dan menguntungkan pengguna Twitter dalam menikmati Facebook.

Modifikasi lainnya, yakni perubahan nama halaman ‘All Friends’ menjadi ‘All Connections’. Perubahan yang terlihat mungkin kecil, tetapi dengan begitu perbedaan antara Facebook Profiles dan Facebook Pages menjadi nyaris tidak ada. Keunggulan fitur baru ini adalah kemampuannya menambah Facebook Page ke dalam friend list, yang artinya memungkinkan berita-berita terbaru dari user maupun grup masuk ke halaman update Anda.

Mampukah Twitter menggilas Facebook ? Memang agak berbeda pasarnya, kalau Twitter lebih spesifik ke microblogging, jadi fasilitas utamanya adalah mengupdate post atau status. Adapun Facebook lebih kompleks, jejaring sosial dengan segala fasilitasnya, aplikasi, chatting, gift, poke, dan lain sebagainya. Untuk di Indonesia, Facebook tampaknya masih akan digandrungi, sebab di Twitter belum dilengkapi fitur foto. Maklum masyarakat kita kebanyakan dikenal suka tampil, kalau tidak dibilang narsis.